Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?

Welcome
image

Kang Amy

081 325 169 567

image
image
image
image
image
Kategori
Artikel Terbaru
Komentar Terbaru
Arsip

WEB-LINK
Outbound Qalbu BKD Jateng
Outbound Qalbu Badan Diklat & KPU
Kalender Hijriyah

Outbound for Kids bersama Wahyu (Bule)
Outbound Qalbu PDAM Magelang
Outbound Qalbu Askrindo Se-Jawa

 

 

 

Outbound Qalbu PDAM Wonosobo

 

 

Visitor

SLINK

Jangan Putus Asa di Kala Do'a Belum di Kabulkan

“Jangan engkau berputus asa karena kelambatan pemberian Allah kepadamu, padahal doamu bersungguh-sungguh. Allah telah menjamin menerima semua doa sesuai dengan yang Dia kehendaki untukmu pada waktu yang telah Dia tentukan. Bukan menurut kehendakmu dan bukan pada waktu yang engkau tentukan”.

 

Ada Hadits yang menyatakan: “Doa adalah senjata bagi orang yang beriman”. Juga di sisi lain menerangkan: “Doa itu sumsum ibadah”. Maka perjuangan tanpa doa binasa dan doa yang tak diiringi dengan usaha hampa.

 

Oleh karena itu jadikan doa dan usahamu sebagaimana fungsional ruh dengan jasad pada diri manusia. Sebab yang disebut insan kamil (manusia seutuhnya) ialah manakala jasad dengan ruh bertemu pada satu wujud manusia. Tidak akan disebut manusia yang sempurna, bila hanya ada ruh. Begitu pula sebaliknya, hanya akan disebut mayat, bila manusia hanya ada jasadnya saja tanpa dengan ruh.

 

Apakah setiap doa akan dikabulkan oleh Allah?
Pertanyaan ini akan terjawab bila engkau telah memahami apa yang disebut doa dan hakikatnya. Maka, tak harus berhenti dari kesungguhan doamu, juga jangan berpaling dari-Nya karena lambat masa diperkenankan pintamu. Pun pula jangan menghardik seraya terlontar kalimat protes atas ketidak puasanmu dengan urai firman-Nya yang menyatakan:
  
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu” (QS. Al Mu’min ayat 60)
 
Perbaiki dahulu sangkamu kepada Allah dan yakinlah seraya husnuzhon (sangka baik) kepada-Nya, bahwa Ia tak akan mengingkari janji-Nya. Kemudian perhatikan dengan seksama petunjuk-Nya, terutama pada syarat-masyrut adab berdoa. Kemudian, coba engkau renungkan firman Allah yang tertera di bawah ini:
 

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. (QS. Al Baqarah ayat 186)
           
Allah itu dekat kepada setiap hamba-hamba-Nya, bahkan kedekatan-Nya diurai dalam firman-Nya:

 

“Allah lebih dekat kepadanya dari urat nadi” (QS. Qaaf ayat 16).
 
Maka tak layak untuk mengatakan:
“Allah tidak mengabulkan doa kami.” Yang menjadi masalah di sini ialah, pemahaman tentang Allah dekat dengan hamba-hamba-Nya, juga Allah mengabulkan setiap pinta dan doa hamba-hamba-Nya. Tentunya memahami hal semacam itu perlu ada kajian ilmu tauhid yang akan menyampaikan kepada pengetahuan tentang Allah dan keberadaan-Nya.

 

Doa yang dikabulkan harus difahami sebagai janji-Nya yang pasti akan dipenuhi sesuai dengan kehendak-Nya. Pengabulan itu ada kalanya di dalam dunia dan ada pula di akhirat. Jika yang dipinta sesuai dengan kehendak-Nya, maka akan diberikannya segera, tetapi bila permohonannya tidak seiring dengan kehendak-Nya maka sebagai gantinya, Ia akan memberikan sesuai dengan kehedak-Nya sebagai alternatif yang tepat untuk dirimu dari-Nya. Hal ini-pun, jika Ia  berkenan atas pintamu. Yang jelas Ia tidak pernah menyalahi janji-janji-Nya.
 
Allah telah mengakui pintamu juga akan memperkenankannya sesuai dengan apa yang Dia pilihkan bagimu. Tak menurut pilihanmu bagi nafsumu. Gelora jiwa yang terasa padamu adalah rahmat-Nya. Terkadang engkau benci terhadap sesuatu yang tak seirama dengan nafsumu, tetapi ia baik untukmu. Begitu pula sebaliknya, apa yang engkau cintai belum tentu baik untukmu, bahkan jahat serta merusak lahir batinmu. Sebagaimana firman-Nya yang menyatakan :
  
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (QS. Al-Baqarah Ayat 216).
 
Maka itu pasrahkan dirimu dalam pilihan-Nya untukmu sesuai dengan kehendak-Nya, niscaya engkau akan menemui apa yang baik bagimu dan menurut-Nya. “Tuhanmulah yang menjadikan segala yang dikehendaki-Nya dan Ia memilihnya sendiri, tiada hak bagi mereka untuk memilih (sesuatu apapun)”.
 
Oleh karena itu jangan engkau memilih sesuatu apapun, jika harus memilih, maka pilih olehmu tuk tidak memilih. Jika engkau telah berhenti dari memilih sesuatu, kemudian engkau serahkan kepada Allah dalam segala hal pilihan atas kehendak-Nya niscaya Ia akan memilihkan untukmu yang paling terbaik menurut-Nya.
 
Adapun diperkenankan doa itu terkadang diberi dengan wujud yang dipinta, namun tidak mustahil akan diganti dengan lainnya yang lebih baik bagimu seperti tercegah dari malapetaka, diampuni dosa atau kesalahannya, mendapat curahan nikmat serta pengabulannya ditunda untuk kelak di akhirat. Sebagaimana diurai dalam Hadits yang bersumber dari Anas ra. berikut.:
  
“Tiada seorangpun yang berdoa, melainkan Allah pasti akan mengabulkan doanya atau dihindarkan dari bahaya padanya atau diampuni sebagian dari dosanya selama ia tidak berdoa untuk sesuatu yang menjurus kepada dosa atau untuk memutuskan hubungan sanak keluarga”. Al-Hadits.
 
Pada Hadis riwayat Muslim menerangkan: “Tiada seorangpun yang berdoa kepada Allah dengan rangkaian doa yang tak durhaka, melainkan Allah akan menganugerahkan dengan salah satu dari tiga perkara: Pertama disegerakan doanya, kedua ditunda untuk diakhirat dan ketiga dihindarkan dari malapetaka walau sekedarnya”.
 
Maka hendaklah engkau harus mengakui kekuasaan-Nya yang absolut, bahwa diperkenankan pintamu pada waktu yang dikehendaki-Nya bukan pada waktu yang engkau kehendaki. Karena khiar (pilihan) Allah bagi hambanya itu terlebih baik dari pada khiar hamba bagi dirinya. Jadi, setiap doa itu pasti dikabulkan. Masalahnya hanya waktu, sebagaimana doa Musa as. dan Harun as. dalam firman-Nya:
  
“Allah berfirman: Sesungguhnya telah diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan janganlah sekali-sekali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak mengetahui”. (QS. Yunus Ayat 89).
 
Firman Allah ini menerangkan tentang doa Nabi Musa as. dan Harus as. untuk kehancuran Fir’aun. Tetapi untuk dikabulkan doa tersebut memakan kurun waktu selama empat puluh tahun. Begitu pula Nabi Muhammad saw. berdoa untuk Umar Ibnu Khatab ra.,  agar diberi hidayah dan sekaligus menjadi pendampingnya yang setia. Dalam hal ini beliau saw. dihadapkan pada penantian dua tahun lamanya. Dan masih banyak lagi riwayat yang senada dengan uraian di atas.

PESAN RASULULLAH: 'JANGAN PUTUS ASA BERDOA'

Daripada Abu Hurairah bahawa Nabi SAW bersabda bermaksud;

" Allah sentiasa memperkenankan doa seseorang hamba selama doa itu tidak mengandungi ( perkara ) dosa, ( perkara yang ) memutuskan silaturahim dan selama tidak meminta supaya cepat-cepat diperkenankan. "

Lalu Baginda ditanya oleh seseorang; "Apa maksudnya meminta dicepatkan? "

Jawab Baginda;

" Umpamanya seseorang itu berkata dalam doanya : Aku berdoa, aku berdoa tetapi aku belum melihat doaku diperkenankan. Lalu aku putus asa dan berhenti berdoa. "

Hadith Riwayat Muslim

Jangan Berputus-asa dikala Doa Belum dikabulkan

Ada Hadith yang menyatakan : " Doa adalah senjata bagi orang yang beriman. " Juga di sisi lain menerangkan : " Doa itu sumsum ibadah. "

Maka perjuangan tanpa doa binasa dan doa yang tidak diiringi dengan usaha hampa.

" Jangan engkau berputus asa kerana kelambatan pemberian Allah kepadamu, padahal doamu bersungguh-sungguh. Allah telah menjamin menerima semua doa sesuai dengan yang Dia kehendaki untukmu pada waktu yang telah Dia tentukan. Bukan menurut kehendakmu dan bukan pada waktu yang engkau tentukan. "

Oleh kerana itu jadikan doa dan usahamu sebagaimana fungsi ruh dengan jasad pada diri manusia. Sebab yang disebut insan kamil ( manusia seutuhnya ) ialah manakala jasad dengan ruh bertemu pada satu wujud manusia. Tidak akan disebut manusia yang sempurna, bila hanya ada ruh. Begitu pula sebaliknya, hanya akan disebut mayat, bila manusia hanya ada jasadnya sahaja tanpa dengan ruh.

Janganlah Membuatmu Putus Asa Dalam Mengulang Doa-Doa, Ketika Allah Menunda Ijabah Doa Itu.

Ibnu Athaillah as-Sakandari mengingatkan kepada kita semua agar kita tidak berputus-asa dalam berdoa. Mengapa demikian? Kerana nafsu manusia seringkali muncul ketika Allah menunda ijabah atau pengabulan doa-doa kita. Dalam keadaan demikian manusia seringkali berputus-asa, dan merasa bahawa doanya tidak dikabulkan. Sikap putus asa itu disebabkan kerana manusia merasakan bahawa apa yang dijalankan melalui doanya itu, akan benar-benar memunculkan pengabulan dan Allah. Tanpa disedari bahawa ijabah itu adalah Hak Allah bukan hak hamba. Dalam situasi keputusasaan itulah hamba Allah cenderung mengabaikan munajatnya sehingga ia kehilangan hudlur ( hadir ) bersama Allah.

Dalam ulasannya terhadap wacana di atas, Syekh Zaruq menegaskan, bahawa tipikal manusia dalam konteks berdoa ini ada tiga perkara :

Pertama :

Seseorang menuju kepada Tuhannya dengan kepasrahan sepenuhnya, sehingga dia meraih redhaNya. Hamba ini senantiasa bergantung denganNya, baik doa itu dikabulkan seketika mahupun ditunda. Dia tidak peduli apakah doa itu akan dikabulkan dalam waktu yang panjang atau lainnya.

Kedua :

Seseorang tegak di depan pintuNya dengan harapan penuh pada janjiNya dan memandang aturanNya. Hamba ini masih kembali pada dirinya sendiri dengan pandangan yang tidak acuh dan syarat-syarat yang tidak dipenuhi, sehingga mengarah pada keputusasaan dalam satu waktu, namun kadang-kadang penuh harapan optimis. Walaupun hasratnya sangat ringan, tapi syariatnya menjadi besar dalam hatinya.

Ketiga :

Seseorang yang berdiri tegak di pintu Allah namun disertai dengan sejumlah cacat jiwa dan kealpaan, dengan hanya menginginkan keinginannya belaka tanpa mengikuti aturan dan hikmah. Orang ini sangat dekat dengan keputusasaan, kadang-kadang terjebak dalam keragu-raguan, kadang-kadang terlempar dijurang kebimbangan. Semuga Allah mengampuninya.

Apakah Setiap Doa Akan Dikabulkan?

Pertanyaan ini akan terjawab bila engkau telah memahami apa yang disebut doa dan hakikatnya. Maka, tidak harus berhenti dari kesungguhan doamu, juga jangan berpaling dariNya kerana lambat masa diperkenankan pintamu. Pun pula jangan mengherdik seraya terlontar kalimah protes atas ketidak puasanmu dengan huraian firmanNya yang menyatakan :

" Dan Allah kamu berfirman : Berdoalah kamu kepadaKu niscaya Aku perkenankan doa permohonan kamu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong takbur daripada beribadat dan berdoa kepadaKu, akan masuk Neraka Jahanam dalam keadaan hina. "

Q.S Ghaafir : 60

Perbaiki dahulu sangkamu kepada Allah dan yakinlah seraya husnuzhon ( bersangka baik ) kepadaNya, bahawa Ia tak akan mengingkari janjiNya. Kemudian perhatikan dengan saksama petunjukNya, terutama pada syarat-adab berdoa. Kemudian, cuba engkau renungkan firmanNya yang tertera di bawah ini;

" Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu mengenai Aku maka ( beritahu kepada mereka ) : Sesungguhnya Aku ( Allah ) sentiasa hampir ( kepada mereka ); Aku perkenankan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepadaKu. Maka hendaklah mereka menyahut seruanKu ( dengan mematuhi perintahKu ) dan hendaklah mereka beriman kepadaKu supaya mereka menjadi baik serta betul. "

Q.S Al Baqarah : 186

Allah itu dekat kepada setiap hamba-hambaNya, bahkan kedekatanNya dihurai dalam firmanNya;

" Dan demi sesungguhnya, Kami telah mencipta manusia dan Kami sedia mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, sedang ( pengetahuan ) Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, "

Q.S Qaaf : 16

Maka tidak layak untuk mengatakan : "Allah tidak mengabulkan doa kami. "

Yang menjadi masalah di sini ialah, pemahaman tentang Allah dekat dengan hamba-hambaNya, juga Allah mengabulkan setiap pinta dan doa hamba-hambaNya. Tentunya memahami perkara semacam ini perlu ada kajian ilmu tauhid yang akan menyampaikan kepada pengetahuan tentang Allah dan keberadaanNya.

Allahlah yang menjamin ijabah doa itu menurut pilihanNya padamu, bukan menurut pilihan seleramu, kelak pada waktu yang dikehendakiNya, bukan menurut waktu yang engkau kehendaki.

Seluruh doa hamba pasti dijamin pengabulannya. Sebagaimana dalam firman Allah :

" Berdoalah kamu kepadaKu nescaya Aku perkenankan doa permohonan kamu."

Q.S Ghaafir : 60

Allah menjamin pengabulan itu melalui janjiNya. Janji itu jelas bersifat mutlak. Hanya saja dalam ayat tersebut Allah tidak memfirmankan dengan kata-kata, "menurut tuntutanmu, atau menurut waktu yang engkau kehendaki, atau menurut kehendakmu itu sendiri. "

Konsep doa yang dikabulkan harus difahami sebagai janjiNya yang pasti akan dipenuhi sesuai dengan kehendakNya. Pengabulan itu ada kalanya di dalam dunia dan ada pula di akhirat. Jika yang dipinta sesuai dengan kehendakNya, maka akan diberikannya segera, tetapi bila permohonannya tidak seiring dengan kehendakNya maka sebagai gantinya, Ia akan memberikan sesuai dengan kehendakNya sebagai alternatif yang tepat untuk dirimu dariNya. Perkara ini pun, jika Ia berkenan atas pintamu. Yang jelas Ia tidak pernah menyalahi janji-janjiNya.

Saya perjelas di sini, bahawa Allah telah mengakui pintamu juga akan memperkenankannya sesuai dengan apa yang Dia pilihkan bagimu. Tidak menurut pilihanmu bagi nafsumu. Gelora jiwa yang terasa padamu adalah rahmatNya. Terkadang engkau benci terhadap sesuatu yang tidak seirama dengan nafsumu, tetapi ia baik untukmu. Begitu pula sebaliknya, apa yang engkau cintai belum tentu baik untukmu, bahkan jahat serta merosakkan lahir batinmu. Sebagaimana firmanNya yang menyatakan;

" Kamu diwajibkan berperang ( untuk menentang pencerobohan ) sedang peperangan itu ialah perkara yang kamu benci dan boleh jadi kamu benci kepada sesuatu padahal ia baik bagi kamu dan boleh jadi kamu suka kepada sesuatu padahal ia buruk bagi kamu. Dan ( ingatlah ), Allah jualah Yang mengetahui ( semuanya itu ), sedang kamu tidak mengetahuinya. "

Q.S Al-Baqarah : 216

Maka itu pasrahkan dirimu dalam pilihanNya untukmu sesuai dengan kehendakNya, nescaya engkau akan menemui apa yang baik bagimu dan menurutNya.

" Dan Tuhanmu menciptakan apa yang dirancangkan berlakunya dan Dialah juga yang memilih (satu-satu dari makhlukNya untuk sesuatu tugas atau keutamaan dan kemuliaan); tidaklah layak dan tidaklah berhak bagi sesiapapun memilih (selain dari pilihan Allah). Maha Suci Allah dan Maha Tinggilah keadaanNya dari apa yang mereka sekutukan denganNya. "

Q.S Al-Qasas : 68

Oleh kerana itu jangan engkau memilih sesuatu apapun, jika harus memilih, maka pilih olehmu untuk tidak memilih. Jika engkau telah berhenti dari memilih sesuatu, kemudian engkau serahkan kepada Allah dalam segala hal pilihan atas kehendakNya, nescaya Ia akan memilihkan untukmu yang paling terbaik menurutNya.

Adapun diperkenankan doa itu terkadang diberi dengan wujud yang dipinta, namun tidak mustahil akan diganti dengan lainnya yang lebih baik bagimu seperti tercegah dari malapetaka, diampuni dosa atau kesalahannya, mendapat curahan nikmat serta pengabulannya ditunda untuk kelak di akhirat. Sebagaimana dihurai dalam hadith yang bersumber dari Anas RA. Berikut;

"Tiada seorangpun yang berdoa, melainkan Allah pasti akan mengabulkan doanya atau dihindarkan dari bahaya padanya atau diampuni sebahgian dari dosanya selagi ia tidak berdoa untuk sesuatu yang menjurus kepada dosa atau untuk memutuskan hubungan sanak keluarga. "

Pada hadith riwayat Muslim menerangkan;

" Tiada seorangpun yang berdoa kepada Allah dengan rangkaian doa yang tak durhaka, melainkan Allah akan menganugerahkan dengan salah satu dari tiga perkara: Pertama disegerakan doanya, kedua ditunda untuk di akhirat dan ketiga dihindarkan dari malapetaka walau sekadarnya. "

Maka hendaklah engkau harus mengakui kekuasaanNya yang mutlak, bahawa diperkenankan pintamu pada waktu yang dikehendakiNya bukan pada waktu yang engkau kehendaki. Kerana pilihan Allah bagi hambanya itu terlebih baik dari pada pilihan hamba bagi dirinya. Jadi, setiap doa itu pasti dikabulkan. Masalahnya hanya waktu, sebagaimana doa Musa A.S dan Harun A.S dalam firmanNya;

" Allah berfirman: Sesungguhnya telah dikabulkan doa kamu berdua; oleh itu hendaklah kamu tetap ( menjalankan perintahKu seterusnya ) dan janganlah kamu menurut jalan orang-orang yang tidak mengetahui ( peraturan janjiKu ). "

Q.S Yunus : 89

Firman ini menerangkan tentang pengabulan doa Nabi Musa A.S dan Harun A.S untuk kehancuran Fir'aun. Tetapi untuk menunggu dikabulkan doa tersebut memakan kurun waktu selama empat puluh tahun. Begitu pula Nabi Muhammad SAW berdoa untuk Umar Ibnu Khatab R.A, agar diberi hidayah dan sekaligus menjadi pendampingnya yang setia. Dalam perkara ini beliau, Nabi Muhammad SAW dihadapkan pada penantian dua tahun lamanya. Dan masih banyak lagi riwayat yang senada dengan huraian di atas.

Dalam hadith Rasutullah SAW bersabda;

" Tidak seorang pun pendoa, melainkan ia berada di antara salah satu dari tiga kelompok ini : Kadang ia dipercepat sesuai dengan permintaannya, atau ditunda ( pengabulannya ) demi pahalanya, atau ia dihindarkan dari keburukan yang menimpanya. "

HR. Imam Ahmad dan AI-Hakim

Dalam hadith lain disebutkan, " Doa di antara kalian bakal di ijabahi, sepanjang kalian tidak tergesa-gesa, ( hingga akhirnya ) seseorang mengatakan, ' Aku telah berdoa, tapi tidak diijabahi untukku. ' "

HR. Bukhari-Muslim

Kerana kasih sayang dan pertolongan Allah pada hambaNya. Sebab Allah Maha Pemurah, Maha Pengasih dan Maha Mengetahui. Zat Yang Maha Pemurah apabila dimohon oleh orang yang memuliakanNya, ia akan diberi sesuatu yang lebih utama menurut KemahatahuanNya. Sementara seorang hamba itu pada dasarnya bodoh terhadap mana yang baik dan yang lebih berfaedah. Terkadang seseorang hamba itu mencintai sesuatu padahal sesuatu itu buruk baginya, dan terkadang ia membenci sesuatu padahal yang dibenci itu lebih baik baginya. Inilah yang seharusnya difahami pendoa.

Doa itu sendiri adalah ubudiyah. Rahsia doa adalah menunjukkan betapa seseorang hamba itu serba kekurangan. Kalau sahaja ijabah doa itu menurut keinginan pendoanya secara mutlak, tentu bentuk serba kekurangan itu tidak benar. Dengan demikian pula, rahsia taklif ( kewajiban ubudiyah ) menjadi keliru, padahal erti dari doa adalah adanya rahsia taklij' itu sendiri. Oleh sebab itu, lbnu Athaillah as-Sakandari menyatakan pada wacana seterusnya :

" Janganlah membuat dirimu ragu pada janji Allah atas tidak terwujudnya sesuatu yang dijanjikan Allah, walaupun waktunya benar-benar nyata. "

Maksudnya, kita tidak boleh ragu pada janji Allah. Terkadang Allah memperlihatkan kepada kita akan terjadinya sesuatu yang kita inginkan dan pada waktu yang ditentukan. Namun tiba-tiba tidak muncul buktinya. Kenyataan seperti itu jangan hingga membuat kita ragu-ragu kepada janji Allah itu sendiri. Allah mempunyai maksud tersendiri disebalik semua itu, iaitu mengekalkan rububiyah atas ubudiyah hambaNya. Syarat-syarat ijabah atas janjiNya, terkadang tidak dipenuhi oleh hambaNya. Kerana itu Allah pun pernah menjanjikan pertolongan kepada NabiNya Muhammad SAW dalam perang Uhud dan Ahzab serta memenangkan kota Mekkah.

Kenapa kita tidak boleh meragukan janji Allah? Sebab sikap meragukan janji Allah itu dapat mengaburkan pandangan hati kita terhadap kurnia Allah sendiri.

As-Sakandari meneruskan;

" Agar sikap demikian tidak mengaburkan mata hatimu dan meredupkan cahaya rahsia batinmu. "

Bahawa disebut di sana padanya pengaburan mata hati dan peredupan cahaya rahsia batin, kerana sikap skeptik terhadap Allah itu, akan menghilangkan tujuan utama dan keleluasaan pandangan pengetahuan disebalik janji Allah itu.

" Sesungguhnya Allah jualah Yang Menguasai segala alam langit dan bumi; Dia menghidupkan dan mematikan dan tidaklah ada bagi kamu selain dari Allah sesiapa pun yang menjadi pelindung dan juga yang menjadi penolong. "

Q.S At-Taubah : 116

Janganlah Ragu Pada Janji Allah

     

Sebagai hamba yang lemah janganlah menodai keyakinannya kepada janji Allah bila belum mendapat kenyataan janji-Nya. Manusia mengira bahwa tanda-tanda yang terjadi sebagai bukti akan turun janji Allah. Tetapi yang sesungguhnya tidak harus demikian adanya, sebab perhitungan Allah tidak sama dengan perhitungan hamba-hamba-Nya. Sebagaimana yang terjadi dalam Suhul-Hudaibiyah .
 

LAA YUSYAKKIKANNAKA FILWA’DI ‘ADAMU WUQUU’IL MAU’UUDI WAIN TA’AYYINA ZAMANUHU LI-ALLAA YAKUUNA DZAALIKA QADHAAN FII BASHIRATIKA WAIKHMAADAAN LINUURI SARIIRATIKA.

 

“Jangan sampai meragukan kamu, terhadap janji Allah, karena tidak terlaksananya apa yang telah dijanjikan itu meskipun telah tertentu (tiba) masanya, supaya tidak menyalahi pandangan mata hatimu, atau memadamkan nur cahaya hatimu (sirmu)”.
      

Sebagai hamba yang lemah janganlah menodai keyakinannya kepada janji Allah bila belum mendapat kenyataan janji-Nya. Manusia mengira bahwa tanda-tanda yang terjadi sebagai bukti akan turun janji Allah. Tetapi yang sesungguhnya tidak harus demikian adanya, sebab perhitungan Allah tidak sama dengan perhitungan hamba-hamba-Nya. Sebagaimana yang terjadi dalam Suhul-Hudaibiyah .
 
Sebelum terjadi “Perdamaian Hudaibaiyah”, Rasulullah saw. sempat bermimpi bahwa beliau bersama para sahabatnya memasuki kota Mekah dan Masjidil Haram dalam keadaan sebahagian mereka bercukur rambut dan sebahagian lagi bergunting. Nabi mengatakan bahwa mimpi beliau itu akan terjadi nanti. “Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat [1] [1] .  Ini yang menyatakan bahwa mimpi Nabi itu pasti akan menjadi kenyataan di tahun yang akan datang. Pada saat kaum muslimin ditolak memasuki kota Mekah dan Umroh oleh kaum Quraisy maka terjadi penandatanganan surat perjanjian yang dikenal dengan “Suhul Hudaibiyah ” (Perdamaian Hudaibiyah).
 
Andaikata pada tahun terjadinya Perdamaian Hudaibiyah  itu kaum muslim memasuki kota Mekah, maka keselamatan orang-orang yang menyembunyikan imannya yang berada di kota Mekah waktu itu dikhawatirkan. Ini sebagai bukti  kasih sayang Allah terhadap hamba-hamba–Nya dalam menunaikan janji-Nya walau ditunda sekalipun.
 
Setelah memperhatikan serangkaian peristiwa “Perdamaian Hudaibiyah“ walau sekilas dapatlah ditarik garis lurus bahwa perhitungan Allah memang tidak sama dengan perhitungan hamba-hamba-Nya.
 
Oleh karena itu, barang siapa dijanjikan Tuhannya pada waktu dan masa yang telah ditentukan, kemudian pada masa yang dijanjikan tidak turun apa yang diharapkannya maka janganlah berkelakuan seperti orang-orang munafik di zaman Rasulullah saw. Sebab hal semacam itu akan menodai keyakinan serta mengotori keimanannya kepada janji Allah.
 
Karena syak (ragu) terhadap kebenaran janji Allah adalah kufur dan musyrik hukumnya. Juga membutakan matahati tuk memandang kebenaran janji Allah. Maka sudah selayaknya bagi seorang hamba itu mengenal Qadar -Nya dan beradab pada Tuhannya seraya sukun (tetap hati) memandang baik kepada-Nya pada barang yang dijanjikan–Nya. Seperti pandangan mereka, para ‘Arifin Billah, yang tak pernah berubah I’tiqod -nya.
 
Maka jadikan dirimu dalam penyerahan kepada Allah secara total dengan diiringi rasa syukur kepada-Nya atas karunia yang ada padamu dalam menjalankan “Amar ma’ruf nahi munkar ”. Juga apa-apa yang datang kepadamu adalah karunia dari-Nya sebagai bukti kasih sayang-Nya. Adapun sesuatu yang belum engkau dapatkan walau engkau menginginkannya, maka hal itu sebagai tanda penjagaan-Nya kepadamu. Sebab keinginanmu masih pada tahap warna nafsu yang akan mencelakakanmu.
 
Nafsu itu yang selalu meluncurkan anak panah syahwat ke matahati, bila matahati terkena anak panah syahwat, jadilah hati itu buta.Yang dimaksud buta ialah buta dari kehendak Allah terhadap hamba-hamba-Nya. Resikonya, cahaya yang memancar di lubuk hati, juga disebut nurul asror   akan menjadi padam dan tak dapat menerangi akal tuk membedakan antara Atsar dengan Hukum .
 
Perlu saya pertegas disini, bahwa matahati itu ialah “Nur” yang diletakkan Allah dengan wasithoh kuat iman. Nur juga dapat diperoleh dari petunjuk akal yang suci, hingga meningkat menjadi Asror Rububiyah . Itulah yang disebut “Nurul Hidayah ” yang menjadi tonggak perjalanan bagi orang-orang yang menuju kepada Allah dengan taburan Rohmaniyah -Nya. Maka sucilah hatinya dari syirik khofi yang mengotori hati dan menghambat perjalanan. Juga terlepas dari syak terhadap janji Allah hingga terbuka matahati dengan memperoleh petunjuk dan mahabah serta tak berkehendak kepada amal dan sebab.

angan Biarkan Mata Hatimu Buta

     
 

Ketahuilah wahai para salikin ! Giat usaha dan ikhtiar seiring ambisi tuk meraih rezeki yang telah dijanjikan-Nya adalah tanda orang yang bersifat tamak dan serakah. Mengabaikan usaha dan ikhtiar disegala sektor adalah kesombongan yang meliputi makhluk terlaknat. Ragam amal ibadah yang dijadikan untuk merayu Allah agar disegerakan permohonan dan keinginannya ialah ciri hamba yang kurang percaya pada ketetapan dan janji Allah. Berpaling dari munajat, doa dan amal ibadah serta usaha dan ikhtiar adalah sifat hamba yang frustrasi serta buta mata hati alias tak mampu melihat kehendak-Nya (irodatullah ).

 

IJTIHAADUKA FIIMAA DHUMINA LAKAA WATAQSHIIRUKA FIMAA THULIBA MINKA DALIILUN ‘ALA INTHIMAASIL BASHIIRATI MINKA.

 
“Kerajinanmu tuk mencapai suatu yang telah dijamin pasti akan sampai kepadamu, di samping keteledoranmu terhadap kewajiban-kewajiban yang telah diamanatkan kepadamu, membuktikan buta mata hati-mu”.
 
Ketahuilah wahai para salikin ! Giat usaha dan ikhtiar seiring ambisi tuk meraih rezeki yang telah dijanjikan-Nya adalah tanda orang yang bersifat tamak dan serakah. Mengabaikan usaha dan ikhtiar disegala sektor adalah kesombongan yang meliputi makhluk terlaknat. Ragam amal ibadah yang dijadikan untuk merayu Allah agar disegerakan permohonan dan keinginannya ialah ciri hamba yang kurang percaya pada ketetapan dan janji Allah. Berpaling dari munajat, doa dan amal ibadah serta usaha dan ikhtiar adalah sifat hamba yang frustrasi serta buta mata hati alias tak mampu melihat kehendak-Nya (irodatullah ).
 
Pada kajian terdahulu telah dibahas bahwa rezeki itu telah ditetapkan oleh Allah. Setiap manusia pasti akan mendapatkan rezekinya. Maka tak perlu ada kekhawatiran tak tercukupi rezekinya, seperti mereka yang bersungguh-sungguh mencari rezeki untuk mencukupi kebutuhan hidupnya dengan mengabaikan perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya.
 
Semangat tuk meningkatkan kualitas hidup jasmaniah adalah suatu himmah yang terpuji. Tetapi lebih terpuji lagi jika kualitas hidup ruhaniahnya sudah teruji.
  
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi”. (QS. Al Qashash ayat 77)
 
Berkaitan dengan masalah ini, kami menganjurkan kepada para salikin untuk istiqomah pada pijakan yang telah Allah tetapkan untukmu, juga bersabar dengan sesuatu yang telah dijanjikan-Nya. Sebab berpaling dari sesuatu yang dikehendaki Allah, akan memadamkan cahaya hati dan sekaligus dapat membutakan bashirotul qolbi .
 
Allah menganugerahkan rezeki lahiriah, yang menjadi piranti perjalanan hidup hamba di muka bumi. Ini adalah rezeki yang telah disediakan Allah untuk para hamba-Nya. Sampai rezeki di pangkuan seorang hamba, tentunya melalui alur sebab-musabab usaha dan ikhtiar. Maka itu, tak satupun makhluk yang tidak menerima rezeki dari Allah. Bahkan banyak binatang yang tidak dapat membawa dan mengurus rezekinya sendiri. Dalam hal ini, Allah tidak menuntut imbalan dari semua makhluk-Nya, melainkan bagi seorang hamba harus berpijak pada titian kewajiban yang menjadi tanggungannya. Karena yang dituntut dari seorang hamba, ialah amal ibadah yang sempurna untuk mencapai kebahagiaan akhirat. Perwujudan ibadah yang sempurna bagi seorang hamba, harus bersandar pada hati yang diliputi tauhid mukasyafah (orang yang terbuka).  Hal ini tak akan terjadi, kecuali dengan hidayah Allah. Maka itu, hidayah adalah anugerah Allah yang dipancarkan ke lubuk hati hamba-Nya.
 
Oleh karena itu, harus mengetahui keadaanmu sebagai seorang hamba yang menerima ketetapan-Nya (sunatullah ) atau beban hukum dari Allah (taklif ), juga harus berusaha dan berikhtiar yang sesuai dengan kehendak Allah. Dalam kaitan ini, harus bersikap dan bersifat tawakkal, sabar dan tetap di shirothol mustaqim (jalan yang benar) yang telah digariskan Allah serta dicontohkan oleh Rasul-Nya.


Yang menuntut dan protes kepada Tuhannya, adalah orang yang keluar dari kodrat kehambaannya. Sebab tak tahu telah dicukupkan segala kebutuhan  hidupnya. Inilah orang yang buta mata hatinya!
 
Allah meletakkan mata hati (bashirotul qolbi ) di dalam hati hamba-hamba-Nya sebagai nur (pelita) untuk mengetahui kehendak-Nya. Dengan mengetahui irodatullah , seorang hamba dapat menentukan sikap berpijak yang bijak melukis titian akhlak bersifat qona’ah dan tawakkal . Ihwal ini membias dari lubuk hati hamba yang telah membasuh wajah hati dengan air “pemantau” (muroqobah ), juga telah dibersihkan dari aghyar (kecemburuan). Sebab jika karatan aghyar tetap melekat di hati, akan menjalar berinfeksi kebimbangan hati (isytighol ) pada selain Allah (dunia).
 
Maka itu, hendaknya bersungguh-sungguh menuju kehadirat-Nya serta melazimkan muroqobah seiring dengan riyadhoh dan mujahadah , pun tak luput harus bermunajat yang sesuai dengan kehendak-Nya tuk mendapat anugerah (minnah ) Allah.

Bahagialah Jiwa Yang Tenang

   

 


“Istirahatkan jiwamu dari kerisauan mengatur kebutuhan (tadbir), maka sesuatu yang sudah dijamin dan diselesaikan oleh selainmu tak usah kau sibuk memikirkan”.
 
Aneka ragam masalah kebutuhan hidup yang menjadi piranti kehidupan dunia, jangan engkau pikirkan terlebih dahulu seperti; bagaimana kejadian esok hari dan yang akan datang. Karena permasalahan itu akan membuat kerisauan jiwa dan hati, juga tak luput dari kesempatan setan yang akan mengambil tempat pada jiwamu untuk merekayasa peristiwa yang akan datang, seraya derita dan kehancuran menanti di depanmu. Perlu difahami disini, bahwa hal itu hanyalah angan khayal yang muncul dari hati nan gelisah takut tak tercukupi kebutuhan hidupnya. Oleh karena itu, istirahatkan jiwamu dari berbagai angan khayal dengan cara bertawakkal serta qona’ah .

 

“Seandainya kamu semua bertawakkal kepada Allah dan berserah diri sepenuhnya, maka kamu akan mendapat rizki seperti rizkinya burung-burung diwaktu pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan kembali dengan perut kenyang” . (HR. Tirmidzi)

 

Juga di sisi lain, jangan engkau berpikir bahwa setiap pekerjaan dapat mendatangkan rezeki atau takut tak tercukupi kebutuhan hidup. Hadapkan segala harapan hanya kepada Allah, hanya Dia Yang menurunkan rezeki serta mengatur kebutuhan hidup. Pun demikian tak lepas dari usaha dan ikhtiar sebagai tanda asbab-musabab . Ini adalah tadbir diam serta Allah yang diperintahkan tuk berpijak di bawah orang yang suci seraya ikhlas.(???)

 

“Barangsiapa yang bertawakkal diri kepada Allah maka Dia akan mencukupi keperluannya”. ( Ath-Tholaq ayat 3)
 
Kosongkan jiwamu dari kecamuk konsep strategi usaha (tadbir ), karena hanya Q yang mengetahui dan menentukan aneka ragam kejadian yang lampau maupun yang akan datang, terutama bagi dirimu. Oleh karena itu jangan engkau bertadbir walau sebesar zarroh sekalipun, karena meninggalkan tadbir adalah ‘ubudiyah.
 

Kata Sahal bin Abdullah ra :
 
“Tinggalkan olehmu tadbir dan ikhtiar, maka bahwasanya keduanya menganugerahkan keduanya pada kehidupan manusia”.
 

Yang dimaksud “keduanya” menganugerahkan “keduanya” ialah tadbir dan ikhtiar . Jika tak mampu mengelak dari tadbir dan ikhtiar , maka tadbirkan tuk tiada tadbir. Begitu pula jangan berikhtiar sesuatu dari pekerjaanmu dan ikhtiarkan untuk tidak ikhtiar. Maka itu jangan berikhtiar di dalam ikhtiarmu, kecuali bila telah arif.
 
Seorang yang menyandang  martabat ‘Arifin billah , seraya melintas ungkap kata di hati: “Tadbirku, konsep-Nya. Ikhtiarku kehendak-Nya berikhtiar, diamku kehendak-Nya meninggalkan ikhtiar”. Ini adalah derajat yang sangat tinggi dan mulia bagi para waliyullah .
 
Oleh karena itu wahai para salikin, ikhtiarlah jika engkau berkehendak ikhtiar dan tinggalkan bila engkau tidak menghendaki ikhtiar! Karena pada hakekatnya, tidak ada yang bergerak atau diam dalam ikhtiar, kecuali dengan izin Allah.
 
Dalam masalah ini, hendaknya engkau mawas diri serta menyadari tingkat martabatmu. Jangan sampai engkau terjebak di lumpur nafsu. Berambisi untuk meraih sesuatu tanpa kontrol ilmu, bagai tunanetra berjalan di hutan belantara yang gelap gulita, tak sadar bahaya mengancam dirinya.
 
Sangat baik bagi para salikin untuk mengikuti arus ilmu yang mengalir dan bertemu di muara sejahtera. Jangan berambisi tuk meraih yang Allah telah sempurnakan, yaitu rezekimu di dalam dunia dan akhirat. Jangan menyia-nyiakan perintah dan larangan Allah yang telah dicontohkan Rasul-Nya, dan sucikan hati dan akidah syirik jalli atau khofi serta berserah diri kepada-Nya pada sesuatu yang telah diakui bagimu.
 
Pada pengertian yang pertama hendaklah memahami tentang kemurahan Allah dalam memberikan rezeki kepada setiap makhluk-Nya.
 
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam (dunia) binatang itu dan tempat penyimpanannya (akhirat). Semuanya telah tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauhul Mahfuzh)”. (QS. Huud ayat 6)
 
“Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu”. (QS Al Ankabut ayat 60)

“Dan tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah melapangkan rezeki dan menyempitkannya  bagi siapa yang dikehendaki-Nya” (QS Az-Zumar ayat 52).

“Dan Allah memberi rezeki kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya tanpa batas”. (QS Al Baqarah ayat 212)
 
Adapun pada pengertian yang kedua, harus berpegang teguh pada nilai-nilai dasar syari’at Islam. Jangan sampai menggugurkan taklif syara’ (beban syari’at Islam). Maksudnya ialah jangan sampai meninggalkan tanggung-jawab sebagai seorang muslim untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah ditetapkan Allahdi dalam Al Qur’aan, juga aturan-aturan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw. yang tertera didalam Kitab Hadis.
 
Kemudian dilanjutkan dengan pengkajian serta pengamalan yang berkisar pada pembersihan jiwa dan hati dari berbagai karat aghyar dengan mengikuti tahapan bimbingan dari orang yang dianggap mengetahui tentang itu, seperti para Masyayikh atau Syeikh Mursyid , yaitu guru pembimbing ruhani yang disebut pula sebagai Waratsatul Anbiyaa (pewaris Nabi). Tentunya dalam hal ini tak lepas dari kajian Alqur’an dan Al-Hadits.
 
“Takutkah kamu kepada Allah, dimana kamu berada dan susullah amal yang jelek dengan amal yang baik, pasti ia akan menghapuskannya. Dan bergaullah dengan manusia seiring budi pekerti yang bagus”. (Al-Hadits)
 

“Hai orang-orang yang beriman, berzikir .

Amal , Wirid dan Ahwal

     
 

Beraneka warna jenis amal perbuatan, karena beragam pula warid dan ahwal”
 
Yang dimaksud warid ialah kurnia Allah yang berproses menjadi ahwal (hal ihwal) dalam diri seorang hamba. Maka seiring dengan warid dan ahwal ada bias ilmu “ma’arif robbaniyah” (teologi) serta “asror ruhaniyah” (rahasia ruhani) yang berpola dengan sifat mahmudah (sifat terpuji).
 

Pengertian warid bagi para salikin  adalah kurnia Allah dalam bentuk niat dan himmah (tekad) untuk melaksanakan berbagai kegiatan amal ibadah, baik dalam arti ritual maupun sosial. Sebagai bukti adanya benih warid yang telah tertanam dilubuk hati adalah bila ada tumbuh rasa suka dan cinta dalam melaksanakan ibadah yang menjadi perilaku amal saleh salikin, juga disebut ahwal nan zahir.
 
Pengertian ma’arif robbaniyah ialah ilmu mengenal Allah, seorang hamba memperoleh ilmu itu dengan melaksanakan berbagai macam amal ibadah seperti riyadhoh dan mujahadah . Lain pula asror ruhaniyah yang menjadi pengalaman batin bagi orang yang menuju kepada Allah


Seorang hamba yang mendapatkan warid dari Allah akan ada pada dirinya ahwal yang menuntun kepada sifat mahmudah . Maka sifat mahmudah itu bentuk nafsu sawwiyah atau mulhimah yang selalu mengekspresikan sifat-sifat terpuji, seperti melaksanakan amal ibadah secara istiqomah . Sebab istiqomah itu lebih baik dari seribu karomah. Dengan melaksanakan amal ibadah secara istiqomah, niscaya Allah membiaskan ilmu ma’arif robbaniyah yang menjadi pelita atau matahati seorang salikin, semisal khothir mahmudah (lintasan yang baik) yang datang mewarnai jiwa seorang hamba. Maka lahir amal ibadah yang terpuji seirama ikhlas.
 
Nabi bersabda:
 

 “Barangsiapa mengamalkan ilmu yang diketahuinya, Allah akan mewariskan ilmu yang tidak diketahuinya”. Yaitu ilmu ma’arif robbaniyah hingga merasakan asror ruhaniyah.
 
Sudah menjadi bukti wujud kekuasaan Allah, bahwa kurnia-Nya itu mewarnai disegala sektor kehidupan manusia. Coba perhatikan pola hidup manusia yang beraneka ragam sifat dan perilakunya. Maka pada konteks ini, semua perilaku manusia bersumber dari warid dan ahwal yang dibiaskan Allah ke dalam hidupnya.
 
Jika kita membahas tentang warid, ahwal dan amal dalam sebuah misal, tak ubahnya seperti benih, pohon dan buah yang proses pertumbuhannya tidak terlepas dari pemeliharaan. Amal saleh yang zahir itu disebut sebagai buah, maka yang perlu difahami disini bahwa buah itu ada yang busuk dan ada pula yang baik. Jadi baik dan buruknya amal seorang hamba tergantung pada ahwal yang batin. Dengan kata lain, amal lahiriyah mengikuti sikap batiniyah.
 
Adanya aneka ragam amal perbuatan yang zahir disebabkan oleh adanya berbagai macam keadaan yang datang dari dalam diri seseorang, seperti ada yang suka melaksanakan shalat, ada pula yang senang menunaikan zakat dan banyak lagi perbuatan lainnya baik dalam bentuk ritual maupun sosial. Semua perbuatan itu tentu ada yang menggerakkan dan mendorongnya dari dalam diri seseorang, yaitu warid.
 

Maka pengertian warid yang dimaknakan niat itu tampak pada setiap wujud amal, sebab semua amal perbuatan yang tampak adalah sesuai dengan pola niat yang ada dalam diri seseorang. Niat ialah sebuah titik permulaan teristimewa disetiap gurat amal ibadah dan muamalah lainnya. Niat menjadi tolok ukur yang sangat menentukan tentang baik buruknya suatu amal ibadah atau segala bentuk perbuatan. Apabila niatnya baik maka pada umumnya bisa membuahkan kebaikan. Sebaliknya jika niatnya jelek maka buahnya pun akan jelek pula. Sebagian para Ulama menyimpulkan fungsi dan peran niat sebagai berikut:

 

“Kerap kali amal yang kecil menjadi besar (nilainya) karena baik niatnya, dan kerap kali amal yang besar jadi kecil (nilainya) karena salah niatnya”.
 
Dalam sebuah hadis yang masyhur juga dinyatakan:
 
“Sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada niatnya, dan sesunggunya bagi setiap perbuatan itu sesuai dengan apa yang diniatkan”. (HR. Bukhory dan Muslim)


sumber : www.google.com

Sat, 11 Jun 2011 @09:15


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Copyright © 2019 www.bengkelbisnis.com · All Rights Reserved